Forest Society and Research Group (FSRG) bekerja sama dengan International Forestry Students Association Local Committee (IFSA-LC) UNHAS mengadakan Webinar dalam memperingati Hari Tani Nasional (24 September 2022), pada hari Jumat 30 September 2022 bertajuk, “Apakah Anak Muda Masih Mau Jadi Petani?.” Kegiatan ini menghadirkan dua orang narasumber yaitu Karno B. Batiran selaku pegiat pemberdayaan petani dan orang muda dan Abd. Latif sebagai representasi petani muda dari Desa Barugae, Maros.
Diskusi ini dipandu oleh Mirella Christy Rehatalanit (President IFSA LC UNHAS). Sebagai pembicara pertama, Karno Batiran menyajikan kondisi anak muda dan pertanian di Sulawesi Selatan, bahwa sebagian besar cita-cita anak muda di Indonesia memilih menjadi dokter, polisi, tentara, dan pilot. Pilihan untuk menjadi seorang petani berada pada urutan ke-25. Berdasarkan data sensus pertanian di Indonesia pada rentang tahun 2003-2013, rumah tangga petani mengalami penurunan jumlah dari 31 juta ke 26 juta. Dari jumlah tersebut terdapat 17,73 juta petani padi yang memproduksi beras sekitar 72 juta ton per tahun. Sementara itu, di Sulawesi Selatan, rumah tangga petani menurun dari 1 juta hingga tersisa sekitar 980 ribu dari total jumlah penduduk 8 juta orang. Faktanya, persentase pertumbuhan penduduk di Indonesia sekitar 1,7% per tahun artinya rumah tangga pertanian tumbuh minus sekitar 15% per tahunnya.

Di samping itu, Karno Batiran menambahkan bahwa petani semakin menua. Selama 30 tahun terakhir, kelompok usia petani di bawah 35 tahun menurun dari 25% menjadi 13%, sedangkan usia di atas 55 tahun meningkat dari 18% menjadi 33%. Kondisi itu disebabkan oleh banyaknya anak muda yang enggan bertani dan memilih untuk meninggalkan desa dengan bekerja wilayah perkotaan.
Hasil penelitian yang dipaparkan oleh Karno Batiran mengenai Anak Muda dan Pertanian, khususnya perkebunan Kakao di Sulawesi Selatan menyingkap bahwa anak muda enggan bertani karena berpikir bahwa mereka membutuhkan modal besar dan tanah luas untuk menggarap lahan, sementara hasilnya tidak menjanjikan. Bahkan, anak muda yang mengambil jurusan pertanian pun tidak berpikir untuk menjadi petani melainkan memilih untuk menjadi penyuluh pertanian. Selain itu, fakta lain dari permasalahan anak muda saat ini yaitu kurang dilibatkannya anak muda dalam pembangunan desa sehingga tingkat partisipasi anak muda semakin menurun dan berakibat pada program di tingkat desa sama sekali tidak menjawab persoalan kaum muda.
Diskusi berlanjut melalui penyampaian narasumber kedua Abd. Latif. Dia membeberkan pengalamannya menjadi seorang petani bahwa sejatinya petani saat ini mendapatkan banyak bantuan dari pemerintah, ditandai dengan meningkatnya bantuan alat-alat pertanian dibandingkan dengan 10 tahun terakhir. Sebagai petani muda yang sering disebut petani milenial, Abd. latif menerapkan ilmu yang dia dapatkan di perguruan tinggi dalam kegiatan bertani seperti menangani mesin-mesin di pertanian (Abd. Latif adalah alumni jurusan teknik mesin). Abd Latif juga mengungkapkan bahwa menggarap lahan tidak dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian tunggal karena penghasilan sebagai petani tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sejauh ini, Abd. Latif berupaya mendapatkan penghasilan yang stabil dari lahan dengan cara pengelolaan penanaman jangka panjang, menengah, dan pendek.
- Tanaman jangka panjang yaitu kopi dan cengkeh;
- Tanaman jangka menengah yaitu jahe;
- Tanaman jangka pendek yaitu jagung dan lombok.
Di samping itu, sebagai seorang petani muda di desanya, Abd. Latif juga menerangkan bahwa dirinya juga sering membagi pengetahuannya kepada petani lain terkait inovasi pengolahan hasil kebun menjadi sebuah produk yang bernilai tinggi di pasar.

Acara webinar yang berlangsung selama kurang lebih satu jam setengah tersebut dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta, dengan antusiasme yang luar biasa, dibuktikan dengan banyaknya partisipan yang melontarkan pertanyaan mengenai kehidupan pertanian, contohnya pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan tentang karakteristik seorang petani hari ini. Karno Batiran kemudian menjelaskan bahwa hari ini petani kecil lebih tepat dengan pola kerja yang terorganisir seperti saat bekerja, mereka saling membantu mengerjakan lahannya, dengan begitu biaya produksi semakin berkurang, namun saat ini petani semakin ter individualisasi sehingga tujuan petani hari ini sudah terlanjur dimekanisasi menjadi petani agribisnis.







menyajikan kondisi anak muda dan pertanian di Sulawesi Selatan, bahwa sebagian besar cita-cita anak muda di Indonesia memilih menjadi dokter, polisi, tentara, dan pilot.
Sebagai pembicara pertama, Karno Batiran menyajikan kondisi anak muda dan pertanian di Sulawesi Selatan,